Sabtu, 10 Mei 2014

Kabupaten Pinrang; Masih kah menjadi icon lumbung Beras Sulawesi-Selatan




Masyarakat Indonesia sejak awal kehidupan sebagian besar bekerja sebagai petani. Tak terkecuali masyarakat yang mendiami pulau Sulawesi, terkhusus Sulawesi-Selatan. Beberapa bagian daerah pernah tercatat sebagai penghasil pangan terbesar di Sulawesi Selatan (Khususnya beras). Kabupaten Pinrang merupakan salah satu yang pernah menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat secara umum dan dikenal sebagai lumbung padi. Bahkan diekspor keluar wilayah Sulawesi-Selatan.
Dewasa ini Kabupaten Pinrang tidak lagi menjadi icon penghasil beras terbesar di Sulawesi-Selatan.  Intensitas hasil produksi pertanian mengalami penurunan secara signifikan tiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penghambat sehingga kurangnya hasil produksi pertanian. Ketatnya persaingan industri pertanian dengan beberapa daerah lain menjadikan Pinrang semakin tersisih.
Kemajuan teknologi secara pesat menjadikan Sulawesi-Selatan tertinggal dalam persaingan industri pertanian. Selain itu, beberapa persoalan secara mendasar pertanian di Sulawesi-Selatan diantaranya, profesi petani tidak lagi menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat. Masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang dianggap lebih layak.  Hal ini semakin terhimpit oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam mengembangkan produksi pertanian yang ada khususnya di Kab. Pinrang.
Kondisi tersebut dapat disaksikan di Kab. Pinrang, dimana lahan pertanian yang semakin sempit akibat pemukiman warga yang terus melebar tiap tahunnya. Pembangunan gedung-gedung pemerintahan, dan infrastuktur lain menjadikan lahan-lahan produktif tersebut semakin menyempit. Kebijakan pemerintah tersebut sangatlah bertolak-belakang dengan kondisi pertanian yang tertinggal dengan daerah lain. Kurang tersedianya bibit unggul, infrasturuktur pertanian (saluran irigasi, jalan tani, dll) yang kurang memadai menjadi penghambat keberhasilan produksi petani.
Sekelumit persoalan tersebut diperparah dengan adanya hama yang sering menyerang tanaman padi sebelum siap dipanen. Lambatnya laju pertumbuhan terkadang menjadi tembok pengahalang keberhasilan petani, hal tersebut disebabkan kurangnya bantuan pupuk dan pestisida yang diberikan oleh pihak pemerintah. 
Beberapa persoalan diatas nantinya akan menjadi bom waktu bagi pemerintah dan masyarakat bila tidak segera disikapi. kebutuhan pangan terbesar yang menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat secara umum nantinya akan terus berkurang, akibatnya masyarakat akan mengalami krisis pangan. Hal tersebut akan menjadi penyakit bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengkomsumsi nasi sebagai menu utama yang tidak terpisahkan dalam tiap harinya.
Langkah yang meski ditempuh pemerintah agar terhindar dari kondisi tersebut yakni, memberikan ruang bagi putra-putri asli daerah yang unggul dalam bidang pertanian untuk melakukan penelitian dan pengembangan, serta memperketat izin penggunaan lahan produktif. Selain itu, pemerintah melakukan pengawasan secara berkala dan memberikan bantuan secara merata kepada petani, mulai dari tahap tanam hingga panen raya. Termasuk dalam pengawasan harga beras dan proses pemasaran yang mestinya dilakukan oleh pihak pemerintah.

Kamis, 20 Maret 2014

Internalisasi Nilai-nilai kepemimpinan Bugis-Makassar dalam "Gegap Gempita Pesta Demokrasi Pemilu"

Gegap gempita pesta pemilu tahun ini sudah terasa dalam beberapa waktu belakangan ini. Dalam beberapa media telah memuat mekanisme pencalonan baik pileg maupun pilpres yang akan dilaksanakan serentak diseluruh negeri. Begitu banyak pengorbanan yang mesti dikeluarkan terutama oleh peserta pemilu, mulai dari biaya yang sangat besar dikeluarkan dari APBN ataupun APBD dalam melakukan pembenahan.
Terlebih bagi mereka yang memiliki kepentingan dalam hal ini partai politik. Dimana dalam waktu dekat ini akan dilakukan pemeilihan anggota legislatif secara serentak. Hasil pemilihan anggota legislatif menjadi salah satu penentu dalam memenangkan pilpres tahun ini. 
Dari seluruh rangkaian pesta demokrasi diharapkan pemimpin yang akan memimpin bangsa ini kearah yang lebih baik. namun terkadang dalam beberapa kali pelaksanaan pesta demokrasi tidak didapatkan keluaran sesuai dengan harapan. Salah satu penyebab keluaran yang tidak sesuai dengan harapan yakni tidak adanya penanaman nilai-nilai kepemimpinan serta kurangnya perhatian dari calon-calon pememimpin  terhadap kearifan lokal.
Padahal begitu banyak nilai-nilai kepemimpinan yang patut untuk diaplikasikan dalam menentukan nasib indonesia kedepannya. Dalam bugis-makassar terdapat nilai-nilai kepemimpinan di antaranya yakni: 1. Maccai (Cendekia) 2. Malempu (Jujur) 3. Waraniwi (Berani) 4. Magetteng (Teguh dalam Pendirian). 
Hal tersebut diatas hanyalah sekelumit nilai-nilai kepempimpinan yang ada dalam budaya bugis-makassar. Diharapkan nilai-nilai kearifan lokal mampu menjadi rujukan dalam menentukan sikap memilih pemimpin yang mampu membawa indonesia kearah yang lebih baik. Bangsa indonesia terbebas dari sekelumit masalah dan diharapkan ada solusi yang mampu mengentaskan sebagian besar persoalan yang dihadapi negeri ini. Termasuk Kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. insya allah.......

Selasa, 04 Maret 2014

Menuju Indonesia Baru

"Perjuanganku lebih mudah melawan penjajah Belanda, perjuanganmu lebih susah karna melawan bangsamu sendiri". (Soekarno)

Kutipan diatas yang pernah diutarakan oleh bung Karno beberapa dekade yang lalu sepertinya menjadi sebuah ramalan yang perlahan menjadi sebuah kenyataan. Terjadinya beberapa kali pergantian pemimpin di Negara ini masing-masing memiliki ceritanya tersendiri sesuai dengan zamannya. Maka tak mengherankan jika tuntutan perubahan yang terjadi mesti dibayar dengan pengorbanan yang begitu banyak. Namun bagi sebagian orang hal tersebut merupakan cerita sejarah yang tak pelik hanyalah menjadi sebuah renungan bagi generasi penerus. Akan tetapi, ketika melihat kondisi kekinian yang terus dihadapi oleh bangsa ini lembaran-lembaran tersebut mestinya dijadikan sebagai bagian dalam menentukan sikap dalam menata kehidupan yang lebih baik.



Minggu, 16 Februari 2014

Selembar Prestise

sejak dahulu kala kehidupan sosial manusia mengalami perubahan yang begitu dinamis. sejak kelahirannya manusia telah mengalami fase yang begitu kompleks. begitu pula dengan dunia pendidikan yang memberikan pengaruh yang begitu nyata bagi setiap manusia yang menyelaminya. meskipun pendidikan yang tinggi tidaklah menjadi suatu jaminan kesuksesan manusia. akan tetapi, setiap manusia menginginkannya. maka tak sedikit orang ingin mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri.

dalam aplikasinya mereka yang menempuh jenjang pendidikan mulai SD ataupun TK hingga perguruan tinggi masing-masing memiliki orientasi yang berbeda-beda. ada yang hanya sekedar melanjutkan pendidikan untuk mencari kerja, melakukan perubahan dan bahkan ada yang hanya ingin meningkatkan kehidupan sosialnya dalam masyarakat.