Masyarakat
Indonesia sejak awal kehidupan sebagian besar bekerja sebagai petani. Tak
terkecuali masyarakat yang mendiami pulau Sulawesi, terkhusus Sulawesi-Selatan.
Beberapa bagian daerah pernah tercatat sebagai penghasil pangan terbesar di
Sulawesi Selatan (Khususnya beras). Kabupaten Pinrang merupakan salah satu yang
pernah menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat secara umum dan dikenal
sebagai lumbung padi. Bahkan diekspor keluar wilayah Sulawesi-Selatan.
Dewasa ini
Kabupaten Pinrang tidak lagi menjadi icon
penghasil beras terbesar di Sulawesi-Selatan.
Intensitas hasil produksi pertanian mengalami penurunan secara
signifikan tiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penghambat
sehingga kurangnya hasil produksi pertanian. Ketatnya persaingan industri
pertanian dengan beberapa daerah lain menjadikan Pinrang semakin tersisih.
Kemajuan
teknologi secara pesat menjadikan Sulawesi-Selatan tertinggal dalam persaingan
industri pertanian. Selain itu, beberapa persoalan secara mendasar pertanian di
Sulawesi-Selatan diantaranya, profesi petani tidak lagi menjadi mata
pencaharian utama bagi masyarakat. Masyarakat lebih memilih menyekolahkan
anaknya sampai perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang dianggap lebih
layak. Hal ini semakin terhimpit oleh
kurangnya perhatian pemerintah dalam mengembangkan produksi pertanian yang ada
khususnya di Kab. Pinrang.
Kondisi tersebut
dapat disaksikan di Kab. Pinrang, dimana lahan pertanian yang semakin sempit
akibat pemukiman warga yang terus melebar tiap tahunnya. Pembangunan
gedung-gedung pemerintahan, dan infrastuktur lain menjadikan lahan-lahan
produktif tersebut semakin menyempit. Kebijakan pemerintah tersebut sangatlah
bertolak-belakang dengan kondisi pertanian yang tertinggal dengan daerah lain.
Kurang tersedianya bibit unggul, infrasturuktur pertanian (saluran irigasi,
jalan tani, dll) yang kurang memadai menjadi penghambat keberhasilan produksi
petani.
Sekelumit
persoalan tersebut diperparah dengan adanya hama yang sering menyerang tanaman
padi sebelum siap dipanen. Lambatnya laju pertumbuhan terkadang menjadi tembok
pengahalang keberhasilan petani, hal tersebut disebabkan kurangnya bantuan
pupuk dan pestisida yang diberikan oleh pihak pemerintah.
Beberapa
persoalan diatas nantinya akan menjadi bom waktu bagi pemerintah dan masyarakat
bila tidak segera disikapi. kebutuhan pangan terbesar yang menjadi kebutuhan
pokok bagi masyarakat secara umum nantinya akan terus berkurang, akibatnya
masyarakat akan mengalami krisis pangan. Hal tersebut akan menjadi penyakit
bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengkomsumsi nasi sebagai menu utama yang
tidak terpisahkan dalam tiap harinya.
Langkah yang
meski ditempuh pemerintah agar terhindar dari kondisi tersebut yakni,
memberikan ruang bagi putra-putri asli daerah yang unggul dalam bidang
pertanian untuk melakukan penelitian dan pengembangan, serta memperketat izin
penggunaan lahan produktif. Selain itu, pemerintah melakukan pengawasan secara
berkala dan memberikan bantuan secara merata kepada petani, mulai dari tahap
tanam hingga panen raya. Termasuk dalam pengawasan harga beras dan proses
pemasaran yang mestinya dilakukan oleh pihak pemerintah.